Entah sejak kapan lebaran sering dikatakan sebagai hari kemenangan,
Kemenangan atas apa?
Katanya sih kemenangan atas perang kita melawan hawa nafsu selama 1 bulan, disimbolkan dengan ritual ibadah puasa menahan lapar dan haus (hawa nafsu paling dasar) dan bentuk hawa nafsu lainnya yang levelnya lebih tinggi seperti syahwat dan angkara.
Memang tidak sedikit yang menemukan makna kemenangan sesungguhnya dan berbahagialah mereka yang mencapainya.
Tapi bukan mereka yang ingin kami cermati.
Mari kita cermati kondisi budaya umum masyarakat masa kini merespon hari kemenangan dengan segala aktivitasnya menjelang hari tersebut.
Yang mampu menyerbu pusat pembelanjaan, membeli barang-barang baru untuk digunakan di hari kemenangan, seringkali dengan harga-harga fantastis.
Yang agak mampu, juga ikut menyerbu pusat pembelanjaan dengan segala keterbatasan dan kemampuannya, juga untuk membeli barang-barang yang akan digunakan di hari kemenangan,
Yang sangat tidak mampu, menyerbu berbagai lokasi perempatan jalan, mencoba peruntungan mendapatkan belas kasihan dalam bentuk nominal, yang tentu saja mengingat waktu dan kondisi yang mendukung sehingga peruntungan yang diperoleh akan mencapai angka fantastis juga.
Yang ga jelas mampu atau tidak, berkonvoi keliling kota dengan motor tanpa menggunakan helm, menumpuk di mobil bak dengan kapasitas penumpang bak ikan sarden kalengan, penuh sesak tanpa memikirkan keselamatan atau berada di atas kap mobil, berjoget suka cita….berani dikit….bajupun dibuka dan malam semakin hangat dengan suka ria yang entah apa makna dan tujuannya.
Memang tidak semua demikian, tapi cobalah buka mata, telinga dan hati dengan jujur dan lihat, dengar dan rasakan sekitar…kenyataan yang ada di depan mata…janganlah kita mendustai diri sendiri akan semua kondisi itu.
Inikah makna dari perayaan hari kemenangan setelah melawan hawa nafsu satu bulan lamanya?
Bukankah seharusnya hari kemenangan itu berwujud jiwa-jiwa yang sederhana dan rendah hati hasil dari tempaan latihan sabar dan tawakal?
Perayaan hari kemenangan sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat modern yang diturunkan secara turun-temurun, bukan hari kemenangan atas kejayaan nilai-nilai keagaaman yang luhur…hanya menjadi hari perayaan dari tahun ke tahun yang semakin kehilangan makna
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN





Itu kejadian di negaramu. Di Arab sana malah biasa saja. Ya, wajar. Namanya juga negaramu.
Negaraku..negaramu? Negara yang mana coba…minal aidin wal faidzin ah…
minal aidin wal faidzin
sepertinya tahun ke tahun makna puasa perlahan berubah dari melawan hawa nafsu menjadi menimbun hawa nafsu hingga lebaran.
jadi seperti ajang balas dendam…
test avatar, akhhh…
teu bisa keneh, padahal geus di daptarkeun ka https://en.gravatar.com/barkodz
kumaha nyak, Ay.. meh aya avatar-na…
ehhh.. geuning geus bisa ayeuna mah… (ngomong sorangan, jawab sorangan!)
Jadi kieu carana… Eh geus bisa geuning. :Þ